Kesan-kesan Kolega kepada Guru Besar Ilmu MSDM IPB Prof.Dr.Ir. TB. Sjafri Mangkuprawira

Bang Sjafri yang makin berkibar

April 21, 2008 · 1 Comment

Tidak banyak orang yang makin sibuk dengan berbagai kegiatan pada usia di atas 63 tahun. Bang Sjafri termasuk dari kelompok minoritas itu. Coba saja simak, banyak sekali gagasan-gagasan yang dilayangkan melalui dunia cyber dengan blog ”Rona Wajah:Catatan tentang Manajemen SDM dan Mutu SDM” nya. Di bawah fotonya yang ganteng tertera motto: ”Syiarkanlah kebajikan walau cuma satu kata, semata-mata karena mengharap ridha Allah. Semoga blog ini menjadi kebaikan dan bermanfaat bagi pembaca”.

Motto yang diadopsi dari hadits itu, mengingatkan saya pada pesan yang pernah disampaikan Bang Sjafri jaman dulu sewaktu pada tahun-tahun pertama menghirup udara segar di Kampus IPB, sudah hampir 40 tahun silam. Tidak terasa. Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya masih segar dalam ingatan, ketika Bang Sjafri menyampaikan pesan itu ketika menggembleng saya dan teman-teman pada acara basic training HMI. Nasihat untuk mendorong keberanian mengemukakan pendapat itu kami hirup bersama harumya bunga Tanjung di sepanjang jalan Gunung Gede yang menghubungkan kampus Baranangsiang dengan kampus Gunung Gede. Sekarang pohon-pohon Tanjung itu sudah sirna digantikan dengan bisingnya kendaraan dan maraknya factory outlet. Akan tetapi, alhamdulillah, motto itu tidak ikut sirna dan masih dipegang teguh Bang Sjafri.

Wejangan atau ajaran yang saya peroleh dari Bang Sjafri tidak terbatas hanya pada latihan kemahasiswaan saja. Saya pun mendapatkan banyak ilmu dari Bang Sjafri ketika jaman dulu itu saya mengambil matakuliah Usaha Tani yang dosennya antara lain Bang Sjafri. Mengikuti kuliah yang diasuh orang kasep dan simpatik seperti Bang Sjafri tentu semangat sekali, sehingga tidak heran kalau saya mendapat nilai yang bagus. “Yat, saya masih menyimpan paper Usaha Tani yang Dayat buat dulu” Begitulah kata Bang Sjafri suatu waktu, entah berapa tahun yang lalu. Dengan gaya yang pede, saya menjawab: “Berarti paper saya bagus ya Bang?” Bang Sjafri cuma senyam-senyum. Mungkin meng-iyakan…he..he.

Hubungan saya dengan Bang Sjafri dapat dikatakan cukup erat. Tidak terbatas hanya sebagai kolega, sama-sama dosen IPB, tapi sudah seperti kakak beradik. Karenanya saya memanggilnya ”bang”. Kepada istrinya, juga saya memanggil Mbak Aida. Saya dan teman-teman aktivis organisasi sering bertandang ke rumahnya di Gunung Batu. Sering juga mengadakan rapat di rumahnya ketika Bang Sjafri menjabat Ketua ICMI Orwil Bogor dan Ketua KAHMI Bogor. Adalah sudah menjadi kebiasaan Bang Sjafri bersama Mbak Aida, kalau mengundang rapat pasti satu paket dengan makan malam. Soal rapat dan makan ini ada kejadian yang sulit dilupakan. Pada suatu ketika, kami diundang rapat di rumahnya. Dalam undangan tertera, mulai pukul 19.00. Memenuhi undangan itu, dari Kampus Darmaga bada magrib saya segera menuju rumah Bang Sjafri. Tanpa makan dulu dan dalam benak sudah terpatri ”paradigma rapat plus makan malam”. Yang diundang rapat tidak banyak, dan sekitar pukul 19 sudah kumpul. Seperti biasa, Bang Sjafri membuka rapat dengan semangat. Kami pun dengan semangat pula membahas agenda demi agenda. Jam dinding sudah menunjukkan angka 8 lewat. Perut sudah mulai nagih. Saya berbisik kepada teman sebelah, ”heh..ada makan gak ya..?”.. Dia tidak berani memberi jawaban, namun rupanya dia pun sama..perutnya sudah berteriak. Secara ”diplomatis” saya memberanikan diri bertanya: ”Bang, Mbak Aida ada?”..Harapan saya Bang Sjafri menjawab bahwa sang istri sedang menyiapkan makanan buat kami. Tetapi Bang Sjafri sambil tetap serius menjawab:”Ada.Di ruang kerjanya. Lagi sibuk menyiapkan bahan ceramah tentang gender buat besok”…Wah gawat nih, rupanya tidak seperti biasanya si abang kite ini lupa rumus satu paket itu. Teman-teman peserta rapat saling melirik mendengar jawaban di luar harapan itu. Saya, orang yang disebut paling ”berani mengemukakan pendapat dan aspirasi khalayak” dengan ”diplomatis” juga terpaksa berucap: ”Biasanya, di sini rapat dengan makan malam satu paket, Bang”. Bang Sjafri terhenyak: ”Eh, kalian belum pada makan ya?”…Dengan sigap si abang segera memberikan instruksi kilat kepada Mbak Aida: ”Da, pasukan belum pada makan nih! Ada makanan apa? Tolong siapkan”. Mbak Aida, yang walaupun lagi sibuk, rupanya tanpa berpikir panjang langsung mengambil langkah pengamanan..Dan tak lama kemudian, datanglah sekian puluh tusuk sate kambing berikut nasinya. Lengkap. Maaf ya. Makanannya diolah di dapur lebar. Tidak sempat bikin gule kambing. Kirain tidak ada rapat” kata Mbak Aida dari ruang sebelah. Memang, makanan favorit yang biasa disajikan bagi kami kalu ada rapat atau pertemuan adalah gule kambing dengan resep khasnya Mbak Aida yang lezatnya bukan main. Pasukan yang memang sudah pada lapar itu, langsung menyergap sate yang lezat itu. Bang Sjafri kembali senyam-senyum memperhatikan kami yang tanpa malu-malu melahap makanan sampai ludes. ”Mari kita lanjutkan rapatnya” kata Bang Sjafri yang tampak merasa bahagia melihat wajah teman-teman yang kembali segar itu.

Itulah beberapa kenangan yang sangat mengesankan sebagai tanda eratnya hubungan saya dan teman-teman dengan Bang Sjafri beserta keluarga. Tentunya banyak sekali kenangan indah namun tidak sempat saya tulis dalam kesempatan kali. Insya Allah, lain kali.

Dua tiga hari yang lalu, saya dihubungi oleh Panitia acara Purnabhakti Bang Sjafri. Hampir-hampir saya tidak percaya, karena saya tidak merasa apalagi menyangka bahwa Bang Sjafri sudah hampir masuk usia purnabhakti. Bagaimana percaya? Aktivitasnya masih banyak bahkan saya pikir jauh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi wajah dan penampilannya. Selalu tampak segar dan muda terus. Kita mesti belajar banyak dari Bang Sjafri dalam hal ini; apa kiatnya agar senantiasa bisa tampil segar dan banyak karya, walaupun pernah terkena sakit jantung beberapa tahun yang lalu.

Kembali ke soal purnabhakti. Menurut saya, Bang Sjafri sebenarnya tidak bisa dikategorikan purnabhakti, kalau istilah itu diartikan akhir suatu pengabdian. Okey, secara formal administratif masa pengabdian Bang Sjafri sebagai pegawai negeri sipil di IPB sudah berakhir. Sekali lagi, berakhir secara formal administratif. Akan tetapi, pengabdian seseorang tidak dibatasi oleh ketentuan formal administratif itu. Apalagi bagi seorang Sjafri Mangkuprawira yang pasti berprinsip tidak akan berhenti mengabdi sebelum tiba saatnya malaikat pencabut nyawa beraksi.

Demikian, Bang Sjafri. Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan kesehatan lahir batin sehingga acara purnabhakti tidak diartikan sebagai akhir pengabdian. Ilmu, pengetahuan, dan pengalaman Bang Sjafri terlalu berharga untuk dinikmati sendiri. Gagasan dan karya-karya Bang Sjafri masih sangat diperlukan masyarakat; tidak hanya masyarakat IPB tetapi masyarakat secara lebih luas.

Hidayat Syarief

Categories: Kesan Kolega
Tagged: , ,

1 response so far ↓

Leave a Comment