Kesan-kesan Kolega kepada Guru Besar Ilmu MSDM IPB Prof.Dr.Ir. TB. Sjafri Mangkuprawira

Guru Besar “Blogger” yang Berjiwa Pemimpin

April 21, 2008 · Leave a Comment

Ketika Panitia Acara Purna Bhakti Pak Sjafri, begitu nama panggilan bagi Prof. Dr. Ir. H. Tb. Sjafri Mangkuprawira, meminta saya untuk menuliskan kesan tentang Pak Sjafri sangat sulit bagi saya untuk mengungkapkannya dalam waktu yang sangat singkat dan halaman yang terbatas. Saya memiliki kesan yang sangat mendalam tentang beliau dan terus terang saya banyak pelajar berbagai hal dari Pak Sjafri. Pembawaan Pak Sjafri bersahaja, bertuturnya lugas, sikapnya penuh antusiasme dan berpikirnya sistematis.

Bagi saya, Pak Sjafri adalah seorang guru besar yang memiliki jiwa kepemimpinan. Selama karir beliau di IPB, jabatan kepemimpinan yang pernah diembannya antara lain adalah Ketua Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Faperta IPB, Ketua LPPM-IPB, Dekan Fakutas Pertanian IPB, Ketua Program Studi S2 Ilmu Manajemen FEM-IPB, dan Ketua Senat Akademik IPB. Di luar kampus, beliau pernah menjadi Ketua ICMI Orwil Bogor dan Komisaris Utama BPR Bina Rahmah.

Saya mengenal dekat dengan Pak Sjafri sejak tahun 1983. Ketika itu beliau mengajar saya di tingkat sarjana untuk matakuliah “Pembangunan Pertanian”. Beliau adalah seorang dosen yang hangat, enak menerangkan dan mudah dicerna ketika mengajar. Saat itu beliau sedang menyelesaikan disertasi S3-nya. Setelah menyelesikan S3-nya, karirnya terus melesat, menjadi Ketua Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Faperta IPB, Ketua LPPM-IPB dan seterusnya. Ketika sering ketemu Pak Sjafri dan Ibu Aida (Dr. Ir. Aida Vitayala Hubeis) di Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian IPB, saya sempat terpikir waktu itu untuk mengikuti jejak mereka berdua, “Enak juga ya punya isteri satu profesi, satu kantor dan satu kampus”. Allah swt akhirnya mempertemukan saya dengan isteri saya yang ternyata kemudian “satu profesi, satu kantor dan satu kampus”. Alhamdulillah, …

Saya berpendapat bahwa Pak Sjafri adalah seorang dosen yang memiliki jiwa kepemimpinan. Jika tidak, maka beliau tidak mungkin diberikan amanah untuk memimpin lembaga-lembaga di lingkungan IPB. Pada tahun 1992/1993, sebelum saya berangkat ke Australia menempuh pendidikan S3, saya sempat diminta Pak Sjafri untuk menjadi Wakil Ketua Proyek Penyusunan Buku Pola Dasar Pembangunan Daerah dan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kotamadya Bogor. Saya seringkali diminta oleh beliau untuk memimpin rapat-rapat dengan tenaga-tenaga ahli dari berbagai bidang ilmu. Saya banyak belajar dari Pak Sjafri bagaimana mengelola sumberdaya keproyekan secara efisien dan efektif.

Dalam suatu kesempatan, nasehat Pak Sjafri yang terus saya ingat dan terus saya pelajari dari interaksi saya dengan beliau adalah keberhasilan suatu organisasi baik di lingkungan kampus dan luar kampus sangat tergantung figur kepemimpinannya. Menurut beliau, seorang pemimpin harus memiliki visi serta mau dan sanggup bekerja keras untuk secara bertahap melangkah guna merealisasikan visi itu. Tanpa kemauan dan kesanggupan untuk merealisasikannya, visi hanyalah sebuah impian indah dalam kepulasan tidur panjang. Visi laksana lampu penerang dan jalan penunjuk arah yang dituju.

Membahas gaya kepemimpinan Pak Sjafri di berbagai lembaga/unit di kampus dan di luar kampus, saya teringat buku “The Essence of Leadership: the Four Keys to Leading Successfully” karangan Edwin A. Locke yang diterbitkan oleh Lexington Books pada tahun 1991 dan buku “Leadership Challenge” edisi keempat, karangan Kouzes dan Posner (2007). Pemimpin yang efektif (sukses dan berhasil) diantaranya memiliki ciri-ciri honest (jujur), forward-looking (berpikiran maju, memiliki visi), inspiring (memberi inspirasi), competent (kompeten), intelligent (cerdas), courageous (berani), determined (tegas), straightforward (terus terang) dan supportive (mendukung). Pemimpin yang efektif juga memiliki sifat yang kreatif, fleksibel dan karismatik. Kesemua ciri kepemimpinan tersebut ada dalam diri Pak Sjafri. Tidaklah heran, jika semua lembaga/unit yang dipimpinnya dapat terus meningkatkan kinerjanya di bawah kepemimpinan beliau.

Salah satu kelebihan Pak Sjafri dengan guru-guru besar lainnya adalah kegemarannya untuk menuliskan buku harian di web. Ia seorang blogger yang sangat aktif dan memiliki komunitas yang tidak sedikit. Blogger adalah sebutan bagi orang yang menulis di blog yang ada di internet. Ciri khas blog yang ditulis oleh Pak Sjafri di “wordpress”, tulisannya tersusun secara kronologis dan selalu ada tulisan baru. Blog yang ditulis oleh Pak Sjafri berisi tulisan-tulisan yang terkait dengan perosalan-persoalan bisnis, manajemen dan SDM. Blog tersebut memberikan inspirasi bagaimana meningkatkan kinerja unggul organisasi di tengah beragam turbulensi lingkungan global melalui peningkatan keunggulan kompetitif organisasi secara berkelanjutan. Beliau terus mengingatkan bahwa dalam praktek, ternyata banyak organisasi yang sulit berubah, karena pengelolanya menyukai kebiasaan dan daerah yang menyenangkan (comfort zones). Organisasi yang menghindari manajemen perubahan (management of change) biasanya mengabaikan pengembangan sumberdaya manusia (SDM) yang merupakan faktor kritikal bagi perubahan dan inovasi. SDM merupakan salah satu faktor kunci untuk mempertahankan atau meningkatkan daya saing organisasi. Menurut pengamatan saya, blog yang diberi nama “Rona Wajah” tersebut banyak penggemarnya karena ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir, mudah dipahami dan enak dibaca

Saya berharap kepada Pak Sjafri, meski telah memasuki masa pensiun, tentunya tidak
akan kekurangan kegiatan untuk mengisi waktu. Sebagai ilmuwan saya yakin Pak Sjafri tidak akan pernah kehilangan kreativitasnya. Guru besar yang memasuki periode purna bhakti juga tidak ingin bersemayam di ”menara gading”, karena tidak mungkin menolak permintaan mahasiswa untuk dibimbing disertasinya, tidak mungkin menolak undangan untuk seminar, diskusi dan kegiatan ilmiah maupun kegiatan sosial lainnya. Saya berharap pula agar Pak Sjafri tetap menjadi api yang menghangatkan tatkala kedinginan, menjadi angin sepoi-sepoi yang menyejukkan tatkala kepanasan. Saya yakin Pak Sjafri tidak akan terkena penyakit post power syndrome (penyakit khas yang menyerang pensiunan pejabat yang selalu berorientasi hanya pada kekuasaan).
Karena saya yakin sekali Pak Sjafri bukan tipe seperti itu.

Oleh: Dr. Ir. Arief Daryanto, MEc,

Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB dan Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi FEM-IPB

Categories: Kesan Kolega
Tagged: , , ,

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment